Kenali Beda Stres dan Kecemasan

Stres dan kecemasan sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda meski sama-sama berdampak pada fisik dan mental. Para ahli mengatakan stres sebagian besar berasal dari faktor eksternal, sedangkan kecemasan lebih internal.

Psikolog klinis India dan pendiri Talk To Me, Narendra Kinger, mengatakan meskipun orang dapat memicu timbulnya stres dari dalam diri sendiri melalui self-talk negatif, sikap pesimis, atau kebutuhan untuk kesempurnaan, namun tetap lebih banyak berasal dari faktor eksternal.

“Terlalu banyak tanggung jawab atau proyek kerja berisiko tinggi biasanya dapat memicu respons stres. Kecemasan, di sisi lain, sebagian besar bersifat internal dan tergantung pada bagaimana Anda bereaksi terhadap stres,” ujar Kinger, dilansir Indian Express.

Pada banyak kasus, orang yang telah berhasil menghilangkan stres masih memungkinkan untuk merasa kewalahan atau tertekan. Perasaan inilah yang disebut sebagai kecemasan.

“Ini adalah reaksi atau respons yang berlebihan terhadap situasi tertentu. Jika kekhawatiran dan kesusahan yang dirasakan dalam situasi tertentu tidak biasa, berlebihan, atau berlangsung lebih lama daripada kebanyakan orang lain, itu mungkin kecemasan bukan stres,” kata Kinger.

Dr. Karthiyayini Mahadevan, Kepala Kesehatan dan Kesejahteraan di Columbia Pacific Communities, menjelaskan kecemasan merupakan reaksi psikologis terhadap setiap perubahan yang terjadi. Reaksi ini umumnya muncul dari rasa takut sebagai respons keadaan yang tidak terkondisi atau di luar ekspektasi.

“Reaksi luar biasa terhadap stres membawa kecemasan pada tingkat emosional. Stres sangat penting untuk menjaga percikan kehidupan sementara kecemasan menghabiskan hidup,” kata Mahadevan.

Terkait stres, selalu ada faktor pemicu eksternal. Sedangkan kecemasan tidak perlu ada pemicu, ini akan muncul karena kekhawatiran tentang sesuatu yang dipikirkan terkait dengan yang akan terjadi di masa depan.

“Sangat sering, apa yang kita khawatirkan mungkin tidak terjadi, tetapi memikirkannya terjadi menyebabkan kita menjadi cemas dan panik,” kata Dr. Shireen Stephen, psikolog konseling di Rumah Sakit Cadabams, Bengaluru.

Stephen kemudian memberikan contoh untuk membedakan antara stres dan kecemasan. Stres adalah tekanan yang mungkin dialami saat membuat presentasi di rapat tim atau untuk menyelesaikan proyek tepat waktu. Kecemasan adalah kekhawatiran presentasi mungkin tidak berjalan dengan baik atau proyek tidak selesai tepat waktu.

Menurut Stephen, perbedaan lain adalah soal durasi. Stres berlangsung sampai kejadian tersebut teratasi tetapi kecemasan dapat berlangsung lama dan bertahan untuk waktu yang sangat lama.

Gejala stres termasuk kemurungan, lekas marah, merasa kewalahan, pusing, kesepian, mual, dan perasaan tidak bahagia secara umum. Sedangkan kecemasan termasuk perasaan gelisah, tegang, gugup, dan perasaan takut secara umum.

“Baik stres maupun kecemasan memiliki gejala umum seperti peningkatan detak jantung, pernapasan lebih cepat, dan sakit perut atau sembelit. Tetapi seperti yang dilihat, keduanya berbeda dalam semua aspek lain,” jelas Stephen.

Kecemasan atau kepanikan yang berlebihan melumpuhkan orang sehingga tidak dapat menjalankan aktivitas dengan baik. Sedangkan stres, meski sulit untuk dilalui, namun akhirnya dapat dikelola. Kecemasan skala ringan mungkin tidak terlalu dapat dirasakan namun cukup meresahkan.

Kecemasan parah dapat secara serius mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Serangan panik adalah karakter gangguan panik, sejenis gangguan kecemasan. Selain itu, tingkat stres dan kecemasan yang tinggi dalam situasi sosial dapat mengindikasikan gangguan kecemasan sosial.

Salah satu gangguan kecemasan yang paling banyak dialami adalah kecemasan umum. Dr. J. Mayurnath Reddy, psikiater di Yashoda Hospital Hyderabad, mengatakan untuk mengidentifikasi apakah orang memiliki gangguan kecemasan umum adalah gejala seperti kekhawatiran yang berlebihan dan sulit dikendalikan, yang terjadi hampir setiap hari selama enam bulan.

“Kekhawatiran mungkin melompat dari satu topik ke topik lain,” kata Reddy.

Menurut Reddy, jenis lain dari kecemasan adalah gangguan panik, yang ditandai dengan serangan kecemasan tiba-tiba yang dapat membuat berkeringat, pusing, dan terengah-engah. Kecemasan juga dapat bermanifestasi dalam bentuk fobia spesifik seperti takut terbang atau kecemasan sosial, yang ditandai dengan ketakutan yang meluas terhadap situasi sosial.

Aktivitas fisik, diet bergizi, dan kebiasaan tidur yang baik adalah titik awal untuk mengendalikan gejala ini. Akan tetapi, jika hal tersebut tidak menunjukkan perubahan maka perlu mempertimbangkan untuk berkonsultasi pada ahli. Selain itu, ada juga beberapa tindakan yang dapat membantu mengatasi gangguan kecemasan yang lebih ringan, lebih fokus, atau jangka pendek, seperti manajemen stres atau mengelola stres.

Teknik relaksasi, meditasi, latihan pernapasan dalam, mandi, istirahat dalam gelap, dan intervensi yoga untuk menggantikan pikiran negatif dengan pikiran positif. Buatlah daftar pikiran negatif yang dapat menimbulkan kecemasan dan pada sisi lain tulis juga hal-hal lain yang berisi hal-hal positif. Menciptakan gambaran mental tentang keberhasilan menghadapi dan menaklukkan ketakutan tertentu juga dapat memberikan manfaat jika gejala kecemasan berhubungan dengan penyebab tertentu, seperti pada fobia.

Dukungan orang terdekat juga mampu untuk mengatasi kecemasan. Layanan kelompok pendukung mungkin tersedia secara lokal dan online. Jangan lupa untuk melakukan aktivitas fisik untuk melepaskan zat kimia di otak yang memicu perasaan positif.

Terakhir, konseling adalah cara yang tepat untuk menangani kecemasan. Ini dapat berupa terapi perilaku kognitif (CBT), psikoterapi, atau kombinasi terapi. Perawatan potensial lain adalah terapi paparan, yang melibatkan orang untuk menghadapi pemicu kecemasan dengan cara yang aman dan terkendali untuk memutus siklus ketakutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.