Penggunaan Cloud Diprediksi Naik 200 Persen Lebih, Lintasarta Incar Pasar Startup

PT Aplikanusa Lintasarta atau yang biasa dikenal Lintasarta, salah satu perusahaan telekomunikasi dan penyedia layanan pusat data di Tanah Air, melihat prospek bisnis dan penggunaan cloud atau komputasi awan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Lintasarta yang selama ini sudah menggarap pasar instansi pemerintahan dan perbankan, kini berancang-ancang menyasar pasar startup.

“Memang volumenya (kebutuhan) tidak sebesar perbankan atau pemerintahan, tapi jumlahnya banyak,” kata General Manager Corporate Secretary Lintasarta Ade Kurniawan dalam media gathering di Jakarta, Kamis, 9 Desember 2021.

Ade belum merinci berapa besar permintaan cloud yang ada di bisnis startup. Tapi secara umum, Lintasarta mencatat mencatat bisnis cloud ini juga sangat potensial karena sejumlah perusahaan mengalami peningkatan performa setelah menerapkan sistem cloud computing secara optimal.

Lintasarta memperkirakan nilai penggunaan cloud di Indonesia bakal meningkat Rp 27,3 triliun atau melonjak hingga 201,8 persen pada 2025. Sementara, peningkatan Compound Annual Growth Rate (CAGR) atau rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 31,8 persen di 2025 nanti, dari Rp 9,1 triliun pada 2021.

Itulah sebabnya Lintasarta meluncurkan Cloudeka pada September lalu, yang menjalani salah satu produk cloud di Tanah Air. Lewat Cloudeka ini, Lintasarta memberikan layanan cloud end-to-end, yang lebih lengkap dari layanan cloud yang selama ini sudah diberikan Lintasarta selama 10 tahun terakhir. “Jadi ini semacam re-launching dengan varian layanan yang lebih luas,” kata dia.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan Cloud, Ade menyebut di saat yang bersamaan permintaan akan security atau keamanan jaringan juga ikut naik. “Karena user merasa perlu mengamankan jaringan mereka, tahun depan ini yang akan berkembang pesat juga,” kata dia.

Oleh sebab itu, Lintasarta pun juga akan fokus menggarap bisnis keamanan jaringan ini dalam beberapa tahun ke depan. Menurut Ade, pasarnya sebenarnya sama yaitu seperti konsumen di instansi pemerintahan, perbankan, sampai startup.

Menurut Ade, kenaikan permintaan akan keamanan jaringan pun tak lepas dari beberapa kebocoran data yang terjadi beberapa waktu terakhir. “Jadi awareness-nya meningkat,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.